Patung Macan Putih Viral di Kediri

Kediri, MR – Patung Macan Putih desa Balongjeruk, Kunjang, Kediri, viral karena bentuknya menyerupai kuda nil atau zebra mendapatkan Sertifikat Hak Cipta, Selasa (13/01/2026).

Sertifikat Hak Cipta atau Surat Pencatatan Cipta Seni diserahkan langsung Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum Jawa Timur Haris Sukamto kepada Kepala Desa Balongjeruk Imam Syafii, pencipta patung Suwari, tokoh masyarakat, serta perangkat desa tersebut.

Haris mengatakan penyerahan sertifikat ini adalah wujud kehadiran negara dalam memberikan perlindungan hukum atas karya seni dan budaya masyarakat desa.

Menurutnya pencatatan hak cipta Patung Macan Putih merupakan langkah strategis di tengah tingginya perhatian publik. “Seni Patung Macan Putih yang hari ini menerima Sertifikat Hak Cipta adalah bukti bahwa potensi budaya lokal memiliki nilai dan kedudukan hukum yang sama dengan karya-karya besar lainnya,” kata Haris.

“Kami mendorong agar setiap potensi lokal, baik seni, budaya, maupun produk kreatif lainnya, dilindungi secara hukum karena dari sanalah nilai tambah ekonomi dan pengembangan ekonomi kreatif daerah dapat tumbuh,” ucapnya.

Di tempat yang sama, Kepala Desa Balongjeruk Imam Syafii mengapresiasi respons cepat Kanwil Kemenkum Jatim untuk memproses Sertifikat Hak Cipta tersebut. Menurutnya, pencatatan hak cipta kepada Patung Macan Putih ini menjadi pemicu semangat warganya untuk terus berkarya, dan meningkatkan ekonomi desanya.

“Pelindungan kekayaan intelektual ini menjadi penyemangat bagi masyarakat Balongjeruk untuk menghasilkan karya-karya kreatif yang pada akhirnya bisa meningkatkan ekonomi desa dan kesejahteraan masyarakat,” katanya.

Patung Macan Putih Balongjeruk diciptakan seniman Suwari, yang telah menekuni seni rupa sejak 1980-an.

Proses pengerjaan dilakukan secara mandiri selama sekitar 18-19 hari dengan biaya sekitar Rp3,5 juta yang disebut bersumber dari dana pribadi kepala desa.

Sejak dipasang pada Desember 2025, patung ini menjadi perhatian publik dan viral di media sosial karena bentuknya yang unik dan tak menyerupai macan.

Respons yang muncul beragam, mulai dari apresiasi hingga kritik terhadap bentuk visualnya. Namun, viralitas tersebut justru berdampak pada meningkatnya kunjungan masyarakat ke Desa Balongjeruk.

Kawasan sekitar patung kini berkembang menjadi ruang publik yang ramai. Warga memanfaatkannya sebagai lokasi swafoto, sementara pedagang kaki lima dan UMKM mulai tumbuh dengan menjual makanan, minuman, serta cenderamata (merchandise) bertema Macan Putih.(Ag).

Related posts

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.